Home » » Adikku Sutinah Dan Ibuku

Adikku Sutinah Dan Ibuku

Ayah sedang sakit. Ibu menjaganya di rumah. Tidak dibawa ke rumah sakit, karena ketiadaan uang. Untuk sementara, aku yang menggantikan ayah melaut. Ayah terus menerus batuk dan mengeluarkan darah. TBC, kata orang-orang. Aku pun menembus kabut pagi ke tengah laut, sembari menebar jaring kecil sendirian dengan perahu milik ayah. Perahu kecil dengan cadik kecil di kedua sisinya. Aku pun berhenti sekolah. Adikku Sutinah, mulai besok libur sekolah. Dia kelas 1 SMP, tak lagi naik ke kelas 2. Aku senang, begitu adikku Sutinah libur, berarti ada yang menolong ibu di rumah. Tapi malah adikku Sutinah ingin ikut denganku melaut. Akhirnya ibu mengizinkannya.

Matahari belum muncul. Angin masih berhembus ke laut. Kami cepat-cepat naik perahu dan mengayuh agak ke tengah. Lalu kami pasang layar kecil. Dan perahu pun melaju ke tengah laut. Aku tinggal menjaga kemudi agar perahu lurus jalannya. Sutinah duduk di depanku dan menghadap ke arahku. Sesekali dia mempermainkan air laut yang berdesir-desir. Dia berpegangan kuat ke dinding perahu dengan kedua tangannya. Tiba-tiba ombak di depan menggelombang. Perahu kami terangkat ke atas, kemudian tehempas ke bawah. Saat itu, rok Sutinah terangkat. Akh... Sutinah, tidak memakai celana dalam. Mungkin lupa, atau mungkin celana dalamnya lagi basah. Maklum dia hanya memiliki dua buah celana dalam. Akhirnya kami sampai ke pulau kecil. Aku menabur jaring kecil berkeliling. Usai itu, ujung tali, kami tambat ke buritan, dan kami sama-sama berkayuh ke tepi pantai pulau kecil itu.

Jangkar yang terbuat dari sepotong besi yang melengkung, kami jatuhkan, agar perahu tak bergerak. Kami perlahan-lahan menrik ujung tali. Tangan kami merasakan ada getar-getar kecil jauh di ujung jaring. Aku yakin, ada ikan di dalamnya. Jaring semakin mendekat. Kami pun mengangkatnya. Benar, ada puluhan ikan ukuran kecil, sedang dan agak besar. Kami memasukkannya ke dalam perut perahu. Saat mengangkat yang terakhir, Sutinah terpeleset. Tercebur ke laut. Untung aku masih sempat mengangkat semua jaring itu ke dalam perahu. Aku melihat Sutinah bersusah payah berenang mendekati perahu. Aku mencebur ke laut dan menangkap adikku itu. Dia kugendong dan kuangkat ke dalam perahu. Saat kutolak pantatnya, terpegang oleh tanganku pantatnya yang tanpa celana dalam. Aku juga sempat menyentuh buah dadanya yang mungil.

Sutinah hanya memakai baju kaos tipis dan tidak memakai beha. Selama ini dia hanya memakai singlet saja. Akibat basah kuyup, teteknya membayang di bajunya, tanpa dia sadari. Aku terkesima dan langsug birahiku bangkit. Aku diam saja, agar tetek itu tetap membayang di bajunya yang basah.
"Maafkan aku, Mas," katanya ketakutan. Dia takut aku marah, karena ketidak hati-hatiannya. Aku diam saja dan membenahi jaring untuk kubuang sekali lagi. Sutinah mendekatiku dan mendekapku, sembari kembali meminta maaf. Aku kasihan padanya. Aku balas memeluknya. Kami berpelukan. Kemudian perlahan kembali mengayuh ke tengah dan menebar jaring yang kedua kalinya. Dua puluh menit kemudian, kami kembali menariknya dan mengangkat puluhan ekor ikan yang ukuran kecil dan menengah. Kami hitung bersama, ada 62 ekor ikan, berkisar 11 kilogram. Kami pun merapatkan perahu ke pulau kecil. Sutinah kuajak ke sebuah pancuran kecil yang mengalirkan air sejuk dari puncak bukit. Kupangil Sutinah untuk mandi. Mulanya dia ragu. Kuseret tangannya. Lalu kubuka pakaiannya.
"Malu Mas" katanya.
"Kamu harus mandi dik. Nanti kamu sakit, air laut lengket di tubuhmu," kataku beralasan. Akhirnya Sutinah mau membuka bajunya dan bertelanjang. Dia menutupi susunya dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi menutupi tempeknya yang belum berbulu sama sekali. Aku juga membuka pakaiankua dan bertelanjang lalu sama-sama mandi di pancuran kecil itu. Aku menyuruhnya cepat, takut kalau ada nelayan lain yang datang. Kemudian aku mencuci pakaiannya yang kena air laut. Setelah memerasnya, memakaikannya kembali. Hari meulai meninggi. Kami takut, ikan kamitak laku, kami pulang ke tepian. Kami naik ke perahu.

Layar kecil, kembali kami pasang agar tak perlu mengayuh. Kuminta agar Sutinah dekat denganku. Saat perahu berjalan perlahan, kuminta agar Sutinah naik ke pangkuanku. Lagi-lagi Sutinah ragu. Setelah kupelototi, akhirnya dia naik ke pangkuanku. Punggungnya menyender ke dadaku. Perlahan kontolku naik. Perlahan celana yang hanya pakai karet tanpa celana dalam itu kupelorotkan ke bawah. Lalu kuangkat Sutinah dan kusingkap rok-nya. Jelas, kontolku menempel di belahan pantatnya. Sebelah tanganku memegang kemudi dan sebelah lagi memeluknya. Kumasukkan tanganku ke sebalik baju kaosnya dan mengelus-elus susunya.
"Mas... nanti..."
"Udah... diam saja," aku setengah membentak. Perahu terus melaju menuju tepian. Menurut perkiraan, akan sampai berkisar satu jam lagi. Secepatnya jika angin kencang, 45 menit.
"Mas... geli..."
"Yah. Mas tahu, geli. Tapi enak kan? Jangan bohong," kataku. Sutinah diam. Akhirnya Sutinah menggeliat-geliat. Ujung kontolku sudah sesekali menyentuh-nyentuh parit memeknya. Aku merasa nikmat sekali. Sutinah pun menunduk-nunduk sepertinya dia mencari-cari agar ujung kontolku mengenai itilnya. Aku mendengar sesekali dia mendesah. Kuciumi lehernya seraya terus meraba pentil susunya yang masih kecil. Sampai akhirnya aku melepaskan pejuhku.

Kami sampai di darat. Ibu sudah menunggu di tepian. Pembeli ikan naik sepeda sudah menungu juga. Akhirnya ikan kami jual Rp. 83.000,- Ibu tersenyum.
"Rezeki kamu bagus Rin," kata ibu.
"Ini rezeki Sutinah, Bu," kataku. Sutinah tersenyum.
"Baguslah. Kalau begitu Besok Sutinah ikut lagi, ya" kata ibu pada Sutinah. Sutinah tersenyum dan mengangguk. Aku senang.
"Sutinah harus ikut bu. Biar ada temanku dan Sutinah rezekinya bagus," pujiku pula. Ibu tersenyum.
Di rumah, aku memperbaiki jaring yang koyak dan Sutinah datang.
"Besok aku ikut lagi ya, Mas," kata Sutinah seperti membujuk.
"Ya.. Tapi seperti tadi ya. Jangan pakai celana dalam dan pakai baju kaos saja," kataku. Sutinah mengangguk. Aman pikirku.

Jaring kami tabur lagi dan tarik. Kami tabur lagi dan kami tarik pula sampai tiga kali. Kami mendapatkan ikan lebih banyak dari kemarin. Aku mengajak Sutinah mandi ke pancuran. Aku sudah membawa sabun mandi. Kami mandi bedua bertelanjang. Sutinah seperti mulai biasa dan tidak malu lagi. Dalam tubuh kami dilamuri sabun, kami berpelukan. Kucium Sutinah, kuemut teteknya sampai Sutinah mengelinjang. Setelah puas menciuminya, kami cepat memakai pakaian dan naik ke perahu. Perahu-perahu besar sudah lebih dahulu ke darat. Mereka ingin mendahului kami, agar ikan mereka lebih mahal. Aku justru senang, kami belakangan dari mereka. Perlahan aku memasang layar dan perahu melaju perlahan pula. Sutinah seperti tahu sendiri, dia mendatangiku dan naik ke pangkuanku. Aku justru memintanya agar dia menghadapku. Perlahan dia naik mengangkangi kedua kakiku. AKu sudah mengeluarkan kontolku yang ngaceng.
"Pegang kontol, Mas. Kenakan ke tempek-mu," perintahku. Sutinah pun memegang kontolku lalu ujungnya dia tempelkan ke lubang tempeknya. Perahu terus melaju dan gelombang kecil mengayun-ayunkan kami. Gesekan demi gesekan kami rasakan, membuat kami kenikmatan. Sampai akhirnya kami berpelukan dan aku melepaskan pejuhku beberapa kali ke pintu lubang tempek Sutinah.
Bibir pantai sudah jelas terlihat. Aku minta Sutinah agar duduk di tengah. Perlahan dia bangkit dan duduk di tengah berpegangan pada kedua sisi perahu.

Kami tiba di pantai. Ibu juga sudah menunggu. Pedagang ikan mulai berdatangan. Kebetulan harga ikan naik dan kami menjual ikan seharga Rp. 118.000,- Kembali ibu tersenyum dan memuji kami. Aku tetap memuji Sutinah. Sutinah pun tersenyum dan bangga. kami pulang ke rumah setelah menambatkan perahu dan aku pun kembali memperbaiki jaring yang rusak serta memebli benang yang kurang.

Atas pertolongan penyuluh kesehatan yang memasuki desa-desa dan TNI masuk Desa, akhirnya ayahku mendapat kesempatan untuk berobat gratis ke rumahsakit di kabupaten. Ayah dibawa naik ambulance militer dengan sirene meraung-raung. Sutinah menangis, ketika ayah dibawa naik ambulance itu. Dia memelukku. Ibu menemani ayah ke rumah sakit dengan membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Kata mereka setidaknya ayah harus diopname selama 4 bulan, kemudian harus makan obat teratur dan diawasi. TBC, masih bisa disembuhkan, kata mereka. Kami pun agak lega juga.

Aku dan adikku Sutinah, menyusul ayah dengan naik sepeda. Siang kami tiba di rumah sakit. Ayah dirawat. Tangannya sebelah diinfus. Hidungnya, diberi pernafasan. Kata mereka namanya oksigen. Ayah mulai lega bernafas. Ibu pun dirawat juga dengan diinjeksi dan diberi obat. Kami hanya dua jam di rumah sakit. Setelah itu, kami pulang dan tak lupa membeli peralatan untuk menempel jaring. Kami sempat makan di warung tepi jalan dan makan dengan lahapnya. Pukul 17.00, kami baru tiba di rumah. Aku langsung tidur, karean keletihan mengayuh sepeda.

Dalam aku tertidur, aku merasakan, kontolku seperti dielus-elus. Aku terbangun. Kulihat adikku Sutinah sedang mengelus-elus kontolku.
"Ada apa, Su?" tanyaku.
"Tadinya kontol Mas kecil. Lama-lama jadi besar?" kata adikku. Aku tersenyum saja
"Aku laga-laga ke tempekku ya Mas. Seperti di perahu itu?" kata adikku. Aku diam saja dan kembali menutup mataku. Sutinah langsung menaiki tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku. Ditangkapnya kontolku dan dilaganya ke lubang tempeknya. Kedua lututnya bertumpu pada lantai.
"Tekan yang kuat, Su. kontol Mas, dimasuki ke dalam lubang tempekmu," kataku. Adikku melakukannya.
"Ah.. Mas. Sakit," katanya.
"Perlahan-lahan. Nanti lama-lama gak sakit lagi," kataku. Dia melakukannya, tapi mengataan tetap sakit. Ya sudah.
"Kamu buka bajumu. Kamu telanjang saja," kataku.
"Nanti dilihat orang," bisiknya.
"Tak ada yang melihat. Hanya kita beruda saja," kataku. Akhirnya Sutinah mau dan melepas pakaiannya sampai telanjang. Aku duduk dan memangkunya. Aku mempraktekkan, bagaimana Lek Parto menjilati pentil susu isterinya dan menjilati tempek isterinya. Isteri Lek Parti menggeliat-geliat kenikmatan. Aku akan buat adikku nikmat, bisik hatiku. Aku juga melepas semua pakaianku. Aku mulai menjilati tetek Sutinah. Pentilnya yang kecil dan susunya yang kecil. Benar, Sutinah merasa kegelian. Aku minta dia menikmatinya, Sutinah diam dan mulai menikmatinya.
"Enak kan?" bisikku.
"Heemmm..." jawab Sutinah.
"Kami pigi ke belakang dulu. Cebok tempikmu pakai sabun sampai bersih, gi" kataku.
"Untuk apa Mas?"
"Ikut saja apa aku bilang. Sana..." Sutinah mengikuti saranku. Aku ingin mendengar desahnya, seperti desah isteri Lek Parto. Sekembali Sutinah, aku suruh dia menelentang di lantai beralaskan tikar. Di rumah kami memang tak ada tilam. Sutinah mengikut. Aku mulai menjilati memeknya. Tempek yang belum berbulu sama sekali. Tempek yang masih ada satu garis dengan bibirnya yang sedikit membentuk.
"Ah..." Sutinah mulai mendesah, setelah lidahku mulai meliuk-liuk pada itilnya.
"Mas..."
"Udah diam saja... Enak kok," kataku. Sutinah diam dan kembali mendesah-desah.
"Udah Mas. Aku mau pipis... udah," katanya. Aku meneruskan. Tak mungkin Sutinah berani pipis di mulutku, pikirku. Aku terus menjilati tempeknya. Sampai dia menjepit kepalaku dengan kedua kakinya.
"Mas aku pipissss...." Desahnya. Aku terus menjilatinya sampai akhirnya kedua kakinya melemas.
"Udah mas. Kasihan Suti Mas," katanya. Cairan kental meleleh di ujung lidahku. Aku memeluknya.
"Maaf Mas. Aku tadi pipis di mulut Mas," katanya. Aku diam saja. Aku terus memeluknya dan menempelkan kontolku ke tempiknya.
"Kamu masukin kontol mas ke dalam mulutmu," kataku. Sutinah ragu.
"Ayo..." kataku. Sutinah duduk di sisiku dan memegang kontolku. Perlahan dia masukkan kontolku ke mulutnya. Kuminta dia memainkan lidahnya pada kontolku dan giginya jangan sampai mengenai kontolku. Sutinah melakukannya. Aku mengulur tarik kontolku dalam mulutnya. Sampai maniku menumpah di dalam mulutnya beberapa kali.
"Mas.." katanya.
"Kalau kamu gak mau telan, ya dibuang saja," kataku. Suti pun meludahkan maniku dari mulutnya. Kuraih tubuhnya dan memeluknya sembari menciumi pipinya. Kami berpelukan lagi.
Tak lama Suti mengatakan nasi sudah siap dari tadi dan kami harus makan.

Suti membuat nasi ke piringku dan ke piringnya bersama lauknya.
"Aku seperti ibu ya Mas. Dan Mas jadi bapak,: katanya.
"Ya. Kita main suami-isteri. Aku suaminya dan kamu isterinya?" kataku pula mengikuti ucapannya. Dia tersenyum. Lalu Suti pun menirukan kelakukan ibu kepada ayah kami. Bagaimana ibu memperhatikan ibu dan memperlakukan ayah, begitu pula Suti terhadapku. Ibu kami juga memangil Mas kepada ayah dan ayah memanggil bu ne kepada ibu kami. Ketika aku panggil namanya Suti, Suti memintaku agar aku memanggilnya Bu ne, sembari tersenyum. Aku mengikutinya.
"Tapi kalau tak ada yang mendengar ya?" kataku. Suti mengangguk. Aku pun memanggilnya Bu ne. Nampaknya dia senang. Ya sudah.

Malamnya kami tidur untuk besok subuh kami harus melaut. Kami berpelukan.
Subuh Suti membangunkan aku. Orang-orang sudah berlalu lalang mau melaut. Kami bangun, mencuci muka dan membuka pintu. Kami turun dari rumah melalui tangga. Di bawah rumah kami melepas perahu setelah mengisinya dengan jaring. Perahu memang tertambat di bawah rumah kami yang airnya lebih setinggi lutut. Hampir sepinggang. Kami nak ke atas perahu.
"Bu ne, kamu jangan terlalu jauh ke depan, kataku. Dengan senyum Suti mengikutiku dan berpindah mendekatiku ke belakang sembari mendayung. Kami mengikuti alur air menuju laut tengah. Dengan cekatan setelah berada 50 meter di laut, Suti memacakkan tiang layar dan mengikat layarnya. Dia sudah cekatan nampaknya. Tali layar dia pegang kuat dan mengulurnya sedikit jika perahu oleng. Aku memegang kemudi.
"Bu ne bersandar ke dada Mas ya?" katanya manja. Dia sudah pula menyebut dirinya dengan kata Bu ne. Aku biarkan saja. Hari masih gelap, perahu-perahu kecil berlayar plastik putih keliahatan sudah mulai banyak di tengah laut. Kami mengikutinya dengan menjaga jarak, agar mereka tidak melihat Suti bersandar padaku dengan manja.
"Kita ke tempat biasa ya Mas, "Kata Suti. Aku mengarahkan perahu ke sana. Tapi di sana sudah ada dua perahu lebih dulu. Akhirnya kami mengarahkan perahu ke rimbunnya pohon-pohon bakau seperti sebuah teluk kecil. Kami mulai melepas jaring. Kemudian menariknya perlahan. Aku merasakan ikan-ikan bergetar di dalam jaring.
"Hati-hati, nampaknya ikannya banyak," kataku. Benar saja, ikan menggelepar-gelepar di jaring. Setelah melepas ikan-ikan itu, kami menebar lagi di tempat yang sama. Kami tarik lagi. Tiga kali kami menebarnya, kemudian kami keluar dari teluk itu. Kami tersenyum. Tangkapan kami hari ini, lumayan baik.
Kutarik Suti mendekatiku dan kukecup bibirnya, seperti apa yag dilakukan Lek Parto pada isterinya.
"Kamu isap lidah Mas ya. Kita bergantian mengisap lidah," kataku. Suti menatapku.
"Kamu mau ya Bu ne..." kataku merayunya. Suti tersenyum setiap kali aku memanggilnya Bu ne. Kuulurkan lidahku dan Suti mulai mengemutnya. Kami bergantian.
"Ayo sudah. Kita harus cepat ke darat. Nanti pembeli ikan pada pulang," kataku. Kami memasang layar dan mengarahkannya pulang. Perahu melayu agak kencang, karena angin yang hidup menolak kami ke darat.
Para pembeli ikan menyerbu kami dan kami menjualnya Seorang tentara yang ikut masuk desa mengawasi kami. Pembeli ikan tak berani macam-macam. Kami mendapat uang hampir dua ratus ribu rupiah.
Perahu kami kayuh ke kolong rumah dan kami naik ke atas. Aku minta Suti membeli mi goreng dua bungkus dan aku memasak nasi. Begitu nasi masak. Suti sudah pulang dari membeli mi goreng. Kami makan nasi bercampur mi goreng. Kami makan dengan lahap.
"Kita tidur-tiduran lagi ya, Mas?" kata Suti.
"Sebentar, biar Mas betulin jaring dulu. Setelah siap kita boleh tidur. Kalau tidak, nanti kita keasyikan dan lupa memperbaiki jaring," kataku. Suti merajuk.
"Sabar dong Bu ne..." kataku merayu. Suti tersenyum dan memelukku.
"Iya mas. Bu ne ikut membantu ya?" katanya menyeret tanganku. Kami mengeluarkan jaring dari perahu dan menjemurnya, sembari memperbaikinya.

Ibu senang sekali, ketika aku dan Suti membezuk ayah ke rumah sakit. Kami membawa tiga bungkus mie goreng. Mie goreng di ibukota kabupaten ternyata jauh lebih enak dari di kampung kami. Satu untuk ayah, satu bungkus untuk ibu dan satu bungkus untuk kami bagi berdua. Selain itu, aku menyerahkan uang Rp.200 ribu untuk ayah. Mana tau ada keperluan yang harus dibeli. Ayah dan ibu senang sekali. Kata ibu, kalau ung, tolong di simpan saja. Nanti kalau kami butuh, kami akan minta. Sebab kami di rumah sakit, semua obat ditanggung oleh pemerintah. Menurut ibu uang Rp. 200 ribu itu cukup untuk sepuluh hari. Ibu meminta kami agar jangan lupa makan, menjaga kesehatan dan ayah tak lama lagi akan dicabut oksigennya dari hidung. Infusnya juga akan dicabut. Ayah butuh istirahat tiga bulan lebih lagi, kata ibu.

Kami pun pulang ke kampung lagi. Kami beli beras secukupnya dan segala kebutuhan, seperti garam, bubuk teh, gula dan sebagainya. Sutinah senang sekali membelanjakan uang untuk kebutuhan kami satu minggu. Dia merasa benar-benar menjadi seorang ibu beneran. Sore setelah empat jam berkayuh sepeda, kami tiba di rumah. Semua kebutuhan kami angkat ke rumah dan kami mulai masak bersama. Telur ayam, beras dan sebagainya kami angkat. Sementara Suti membenahi makan malam, aku membenahi jaring. Jaring aku perbesar dan perpanjang. Kami berharap, ikan akan lebih banyak dapat. Kalau selama ini jaring kamu sepanjang 18 meter, kini jadi 32 meter. Perahu terasa penuh berisi jaring.

Seusai makan malam, kami tidur. Suti memakai kain sarung batik tanpa apa-apa lagi di dalamnya,. Dia menirukan ibu kami. Aku hanya memakai sarung dan kaos singlet. Setelah menyiapkan serantang nasi dan lauk telur rebus dan kecap kecil untuk bekal kami besok pagi du laut, kami mematikan lampu dan masuk tidur. Aku melepas semua pakaianku dan meminta Suti juga melepas pakaiannya. Kami tidur bertelanjang. Aku tanya apakah Suti sudah cebok dan menyabuni tempiknya, Suti menjawab sudah. Kami tersenyum dalam gelap gulita. Hanya ada cahaya bintang memasuki rumah gubuk kami dari celah-celah dinding.
"Kamu pernah melihat ayah menindih ibu waktu malam?" tanyaku pada Suti. Rumah kami tidak berkamar. Hanya dibatasi oleh kain saja, membedakan dimana ibu dan ayah kami tidur dan dimana aku dan Suti tidur. Suti menjawab pernah. Dua atau tiga kami kai pernah mengintip ayah dan ibu tidur tindih-tindihan di tengah malam, saat kami sudah tertidur lelap.
"Ya sudah. Kita juga seperti itu," kataku.
"Tapi Mas kan berat?" katanya.
"Kalau ayah bisa menindih ibu, kenapa kamu tidak. Kita coba saja," kataku. Suti setuju. Kami berpelukan dulu seperti ayah dan ibu. Berciuman seperti Lek Parto dan isterinya. Mengisap susu dan menjilati tempek dan mengemut kontol bergantian. Semua yang pernah kami lihat, kami lakukan. Ternyata memang enak.

"Mas buka tempikmu ya. Mas masukkan titit Mas ke dalamnya ya?" kataku. Suti setuju. Setelah mejilati memeknya, aku tujukan ujung kontolku ke lubang tempek Suti. Aku menekannya. Suti merintih.
"Sakit Mas..."
"Ya... Mulanya sakit, tapi nanti kalau sudah hilang sakitnya, jadi enak," kataku.
"Memang Mas sudah pernah melakukannya?" tanya Suti.
Aku bercerita, teman-temanku sudah pernah melakukanna dan mengatakan begitu. Suti pun mau. Ku tekan kontolku ke dalam lubang tempeknya. Suti merintih.
"Bagaimana, masih tahan?" tanyaku membiarkan kontolku di lubang tempeknya. Suti diam saja.
"Tapi betulkan, kalau sudah hilang sakitnya, pasti jadi enak kan?" tanyanya.
"Ya.. pasti," kataku. Padahal itu hanya ucapan Lek Parto yang kutanyai dan bercerita tentang persetubuhan di bawah pohon kelapa sembari kami memperbaiki jaring. Kutekan lagi kontolku dengan lebih kuat. Ujung kontolku terasa sakit.
"Aduh.. Mas... Sakiiiiittttt," rintihnya.
"Ya. Mas juga kesakitan kok. Bagaimana, Kita berhenti atau kita teruskan," kataku. Suti diam tak menjawab sembari menggigit bibirnya. Ketika kucium pipinya, terasa olehku ada lelehan airmata di sana.
"Maaf dik..." kataku.
"Bu ne merasa sakit, Mas..." katanya meringis.
"Maaf Bu ne. Tapi sebentar lagi gak sakit lagi kok. Mas janji Bu ne," kataku. Suti kembali senang dipanggil Bu ne.
"Ya.. Sudah diteruskan aja Mas. Tapi pelan-pelan ya?" katanya. Aku menciumnya dan memeluknya, lalu menekan kuat-kuat kontolku. Sreeeggg... sreeeggg. Kontolku sudah terbenam semuanya. Suti menjerit agak kuat.
"Massss..." Aku langsung menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya, agar suaranya tak keluar. Dia terus menangis. Aku membelai-belai rambutnya.
"Sakit ya Bu ne..." rayuku. Suti terus menengis. Aku mengatakan, kalau kontolku juga sangat sakit. Tapi aku percaya dua hari lagi, sakitnya pasti hilang. Hari ketiga kita sudah menikmatinya. Suti pun tak menangis lagi. Tapi sesekali suara sesenggukan terdengar juga.

Pagi itu, kami tidak ke laut, karena kesingan bangun. Ketika kami bangun, mata hari sudah menyapu-nyapu wajah kami. Kami bangun dan aku menuntun Suti ke belakang untuk mandi. Aku takut juga, ketika Suti menangis saat melangkah. Katanya sangat sakit dan perih. Begitu juga saat dia pipis, katanya lubang pipisnya sangat sakit sekali. Aku jadi ketakutan dan sedih. Akhirnya setelah dia usai mandi aku membopongnya. Aku memasak nasi. Ketika kami makan, tubuh Suti hangat. Aku takut. Bu Mantri lewat dan aku memangilnya. Bu Mantri memagang kening Suti. Suti disuntik dan diberikan obat. Besok sudah tenang dan sehat, kata bu mantri. Aku senang. Setelah kusuapi makan, aku memberikannya obat.
"Biar cepat sembuh ya Bu ne..." rayuku. Suti tersenyum. Akupun minta izin untuk memancing, agar kami nanti malam dan sore serta besok pagi kami punya lauk ke laut. Suti melepasku dengan senyumnya.

Begitu aku pulang membawa empat ekor ikan dan dua ekor kepiting serta 15 butir kerang, Suti melaporkan, kalau darah dari memeknya sudah berhenti. Kupegang keningnya sudah tak hangat lagi. Aku menyuapinya makan dan memberinya obat.
"Besok aku belum bisa melaut Mas. Aku takut dingin..." katanya memelas.
"Ya sudah Bu ne., Mas saja besok y ag melaut," rayuku sembari mencium pipinya. Suti nampaknya senang sekali.
Kami pun tidur berpelukan dengan kegelapan malam. Ah... indah sekali rasanya tidur bertelanjang di bawah selimut sepotong kain batik. Suti sepertinya begitu erat memelukku. Dia kedinginan. Aku menebalkan selimut untuknya. Dia minta dikeloni terus agar hangat. Aku memeluknya. Subuhpun menjelang. Aku terbangun dan membanguni Suti. Cepat dia berpakaian dan menyiapkan bekalku. AKu berangkat ke laut dalam lambaiannya. Kubisikkan padanya, agar semua kejadian dia tak boleh bercerita pada siapapun juga.
"Bu ne janji, Mas..." katanya setengah berbisik. Aku menuruni tangga rumah memikul jaring menuju perahu. Aku mengayuh menuju tengah laut. Setelah menebar sekali jaring, aku pulang. Aku takut, Suti entah bagaimana. Aku menjual ikan dan langsung pulang.
"Kenapa cepat pulag, Mas?" tanya Suti. Aku menjelaskan, hanya sekali menebar jaring dapat ikan sedikit dan langsung pulang. Aku takut kalau Bu ne entah kenapa-kenapa, kataku. Suti tersenyum manja. Dia memelukku Aku balas memeluknya. Nasi sudah siap, kami makan bersama, kemudian memberinya obat. Sudah empat hari, obat sudah habis dan Suti benar-benar sudah sehat. Langkahnya sudah pasti. Pipis sudah tak sakit lagi. Sudah biasa, katanya. Aku tersenyum.
"Jika kita lakukan lagi, pasti sudah enak, tak akan ada sakit lagi," kataku memastikan.
"Bu ne mau Mas...: katanya.
"Setelah memperbaiki jaring, nanti kita mancing ke hutan bakau," kataku. Suti setuju. Maksudnya sebagai uji coba, apakah Suti sudah mampu mendayung dan siap memancing.

Setelah makan siang, aku masuk k perahu dengan membawa pancing dan jala. Adikku Suti ikut. Perlahan kami mendayung ke laut. Orang-orang melihat kami dan kagum. Mereka tahu, kami kerja keras, untuk kehidupan dan untuk orang tua di rumah sakit. TNI yang masuk Desa pun tidak memaksaku yang masih berusia 18 tahun untuk ikut bekerja membuat benteng kampung nelayan dan saluran air.
Angin menyeruak dari laut. Kami harus melawan angin untuk bisa sampai ke tengah laut. Bersama kami mendayung perahu. Udang dan sotong kecil sebagai umpan sudah kami bawa. Juga ada sedikit ubi goreng sebagai makanan selingan kami. Satu jam lamanya kami mendayung, akhirnya kami sampai juga pada sebuah paluh. Kami mulai meletakkan pancing kami di rimbunnya pohon-pohon bakau. Sesekali aku menebar jala. Aku kurang pintar mengembangkan jala. Aku berpikir, jika jala tidak kutebar, sudah pasti aku tidk dapat ikan. Setidak pandainya aku menebar, jala bila dia kutebar, mana tau nasib berkata lain, aku bisa dapat seekor-dua ekor ikan. Benar saja, tali jalaku bergetar. Aku menariknya lamat-lamat. Seekor ikan hampir sekilo beratnya tertangkap. Kakap merah yang nyasar ke paluh. Aku dan Suti gembira sekali. Kami akan menggorengnya, dan akan kami bawa ke rumah sakit untk ayah dan ibu. Tak lama, pancing Suti juga menangkap seekor ikan ukuran sedang. Kami senang sekali.

"Bu ne, kamu cantik sekali," rayuku.
"Apa benar, Mas?"
"Ya... benar kamu cantik sekali, kataku. Sebenarnya, kontolku sudah mengeras. Mataku awas ke sekeliling.
"Maukah kamu mengisap tititku?" kataku memohon. Suti tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya. Dia mendekatiku. AKu mengeluarkan kontolku dari balik celanaku. Suti berjongkok di lantai perahu. Kontolku yang sudah mengeras dia jilat lalu dia kulum dan mempermainkan lidahnya pada bagian bawah kotolku.
"Aku senang, Mas..." katanya. Aku tersenyum. Kuelus kepalanya, lalu kusapu-sapu teteknya dari bawah.
"Kalau dia keluar, boleh aku menelannya, Mas?" tanya Suti.
"Terserah saja..." Kontolku kembali dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku melihat, Suti semakin dekat denganku. Perahu kami sesekali diterpa alun kecil, membuatnya bergoyang. Tapi ujungnya sudah kami tambatkan ke sebuah akar bakau. Aku semakin menikmatinya. Aku pun mengejang lalu aku menyemburkan pejuhku dalam mulutnya. Aku mendengar pejuhku tertelan oleh Suti.
"Asin Mas..."
"Karena belum terbiasa," kataku. Aku pipis dari atas perahu dan mencuci kontolku dengan air laut. Aku tersenyum pada Suti. Dia membalas senyumku.
"Kamu mau?" tanyaku?
"Dijilat saja ya Mas..." katanya tersenyum. Aku mengangguk. Kuminta dia mencucui tempeknya terlebih dahulu. Suti yang tak memakai celana dalam setiap kali kami melaut dan juga di rumah, menurutinya. Setelah bersih kuminta dia rebahan di kepingan lantai papan perahu. Aku melihat sekeliling. Aku yakin kami aman. Belum lagi aku memulainya, pancingku ditarik oleh ikan. Aku menariknya. Seekor ikan sembilang terangkat dan aku memasukkannya ke lantai dasar perahu yang berair, biar kakap dan sembilangnya tidak mati.

Suti mengangkangkan kedua kakinya selebar mungkin. Betisnya berada di sisi perahu dan dia bersandar pada ujung perahu. Sesekali burung-burung kecil bersiul-siul di pucuk-pucuk pohon bakau. Aku memulai menjilati tempeknya. Ujung lidahku bermain pada itilnya. Sesekali kusedot itil itu dan lidahku pun menari-nari pada sebiji kacang tempek-nya. Aku tahu Suti menggelinjang dan menikmatinya. Dia semakin mampu menikmati betapa enaknya dijilati. Sesekali dia mendesah. Desahnya cepat hilang ditelan angin laut. Kedua kakinya sudah berpindah. Kedua kakinya sudah berada di atas punggungku dan pahanya menjepit kepalaku.
"Akhhhh...." desahnya kuat lalu melemas. Aku menghentikan jilatanku. Aku tahu Suti sudah sampai pada puncaknya. Dia tersenyum. Kami kembali meletakkan pancing kami, seperti tak terjadi apa-apa. Semenit kemudian, sebuah perahu melintas mau memasuki paluh. Orang itu, berhenti dan memutar haluannya, karena melihat kami dan paluh sempit itu tak mungkin dilintasi dua perahu yang bercadik.
"Sudah banyak dapat?" orang itu menegur kami.
"Baru satu Mang..." jawabku tenang. Kami meneruskan memancing. Suti tersenyum.
"Dia melihat kita tadi, Mas?" tanya Suti.
"Aku yakin tidak," jawabku. Aku kembali mengambil jala dan menebarnya. Sekali, dua kali, tiga kali dan kali yag ke empat, aku dapat dua ekor ikan ukuran sedang. Aku mengajak Suti pulang ke rumah, sebelum angin berbalik arah. Suti setuju. Kami mengayuh perahu keluar dari paluh. Suti menancapkan tiang layar dan menarik layarnya. Angin berhembus membawa perahu. Sore seperti itu, pasang naik dan angin mengencang dan kembali sedikit enang setelah tengah malam. Kami terbawa angin dengan cepat ke tepian.

"Ada dapat dik?" tanya pak tentara.
"Satu ekor pak. Untuk kami masak dan kami bawa kerumah sakit untuk ayah," jawabku. Tentara itu tersenyum.
"Ya... hatimu bagus sekali dik. Kamu sayang pada ayahmu. Begitulah seharusnya kepada orangtua," katanya bangga. Aku tersenyum. Kami meneruskan mengayuh perahu kami ke bawah kolong rumah dan menambatkannya. Delapan ekor ikan kami bawa naik. Tiba, tiba seorang ibu bidan mendatangi kami.
"Sebentar lagi, kami ke rumah sakit. Ada titipan," kata bu Bidan yang ikut dengan tim TNI masuk Desa.
"Ya.. Bu.. Kami boleh titip ikan untuk ibu dan ayah?" kataku.
"Boleh... setengah jam lagi aku ambil," kata bu Bidan. Kami cepat membersihkan ikan-ikan itu. Kami goreng dan kami sambal. Ikan Kakap yang besar dan ikan Sembilang. Ikan dan sambalnya, kami bungkus pakai daun pisang dan kami ikat dengan baik. Bu Bidan datang dan kami memberikan oleh-oleh untuk ibu.
Setelah bu bidan pergi, Suti pergi mandi, lalu kususul, dan kami pun makan setelah usai shalat mahgrib. Kami mempersiapkan makanan untuk besok subuh ke laut. Semuanya sudah beres.
"Kita tidur yuk... biar besok cepat bangun dan ke laut. Kamu iku Bu ne?" tanyaku.
"Ya mas. Aku ikut," kata Suti. Karena belum larut, kami mengecilkan lampu saja di ruang tengah dan kami berangkat tidur dikelilingi kain pembatas. Dalam gelap kami melepas pakaian kami. Kami mulai berpelukan.

"Kamu mau bukti, kalau sekarang sudah tidak sakit lagi, malah akan nimmat," kataku mulai merayu Suti.
"Pasti gak sakit lagi, kan Mas?"
"Ya.. pasti," kataku sembari mencium bibirnya dan melumatnya. Lalu aku mengisap-isap susunya dan sebelah tanganku mengelus-elus memeknya. Suti mendesah-desah. Aku merasakan tempeknya sudah ada lendir.
"Mas masuki ya, Bu ne.." bisikku.
"Ya.."
Aku mengarahkan kontolku ke tempeknya. Ujungnya sudah mulai menyentuh lubang tempeknya. Perlahan aku menekannya. Perlahan dan perlahan. Masuk...masuk...dan masuk.
"Sakit?" tanyaku.
"Dikiiiiitttt..." jawabnya. Perlahan kutarik kontolku dan perlahan pula aku mendorongnya. Begitu terus bergantian. Suti mendesah dan memelukku.
"Dimasukin semua, Mas..." pintanya mendesah.
Aku menekan semakin dalam dan dalam.
"Yang cepat Mas..." bisik Suti mendesah dan memelukku kuat. Aku menggenjotnya semakin cepat.... cepat dan cepat.
"Ayo Mas... lagi.... ayooo...." Suti mendesah lagi. Aku menggenjotnya semakin cepat dan cepat dan cepat dan ccepat dan cepatttt.
Tubuhku dan tubuh Suti demikian rapatnya. Lengket. Kami sama-sama mengejang dan melepaskan kenikmatan kami. Beberapa kali aku menyemprotkan mani ke dalam tempek Suti. Dia memelukku sekuat tenaganya.

Kami beperlukan dan kontolku yang melemas, lepas dari tempek Suti.
"Kamu cantik sekali Suti.." biskku.
"Bukan Suti Mas. Bu Ne..." bantahnya.
"Ya... kamu cantik sekali Bu ne..." ulangku. Suti memelukku dan mengecup pipiku. Kami tertidur nyenyak. Kami terbangun saat menjelang subuh. Kami menyiapkan jaring dan memasukkannya ke dalam perahu. Kami pun menuju ke tengah laut, untuk mencari ikan dan akan kami jual untuk kehidupan kami.

Setelah sekian lama kami berdua di rumah, rumah kembali menjadi ramai. Ayahku kembali dari rumah sakit. Tak boleh kerja berat dulu. Tak boleh minum kopi, minum alkohol dan tak boleh tidur larut malam serta harus istirahat. Tubuhnya sudah mulai berisi. Ibu sudah boleh menjual ikan kembali bahkan ibu mulai mencari kerang, bila air surut. Kami senang. Justru adikku Suti yang sedikit gelisah. Aku tak memanggilnya lagi Bu ne. Kecuali kalau berkelakar. Wajahnya selalu cemberut.

Besok Suti harus sekolah. Dia sudah mempersiapkan baju, sepatu, tas, buku dan sebagainya yang semuanya serba baru. Ayah dan ibu sangat senang padaku sebagai kakak begitu menyayangi adikku Suti. Kemanjaan Suti, membuat ayah dan ibuku semakin menyenanginya. Mereka senang kalau kami selalu dekat, karena hanya kami beruda anak mereka.
Ayah dan ibu kembali menempati tempatnya di kamar kecil dekat jendela depan. Kain lebar membatasi tempat kami. Aku dan Suti tidur di sebelahnya. Kami berdua tersenyum mendengar ayah mendengkur. Suti pun tak mau diam tangannya. Dia mulai menggerayangi kontolku.
"Ayo, Mas... mereka sudah tidur," bisiknya di telingaku.
"Kapan-kapan saja. Nanti ketahuan," kataku. Dasar Suti kalau sudah ada maunya, susah untuk menolaknya. Dia terus mengelus-elus kontolku sampai kontolku tegang.
"Aku ambil karet dulu. Supaya kamu tidak bunting" kataku. Kukoyak sebungkus kondom dan mendekatkannya padaku di bawah bantal. Suti membuka kancing bajunya dan mengeluarkan susunya.
"Ayo... Mas...." bisiknya merengek. Aku mendekatkan mulutku ke sususnya dan mulai menjilatinya. Saat itu ibu mendehem dari balik kain sebelah. Aku terus mengisapi susu Suti. Bergantian kiri dan kanan. Setelah Suti puas, bibirnya mengecup bibirku. Kami berpagutan. Sampai akhirnya Suti meminta aku menaiki tubuhnya. Dia kangkangkan kedua kakinya dn memintaku menindihnya. Kubuka bungkus kondom dan memasangnya. Setelah siap, perlahan aku menaiki tubuhnya. Suti segera menangkap kontolku dan mengarahkannya ke lubang tempeknya. Aku mulai menggenjotnya. Kami berupaya agar kami tidak ribut, agar tak terdengar pada ayah dan ibu yang tidur di sebelah kami dipisahkan oleh kain lebar. Sampai akhirnya Suti membisikkanku agar aku mempercepat genjotanku. Aku mempercepat genjotanku. Saat itu, betisku dicubit. Ketika kutolehke belakang, ternyata yang mencubit betisku adalah ibuku. Ibu menggelengkan kepalanya dengan tatapan melotot. Tapi puncakku sudah berada di ubun-ubun. Aku meneruskan genjotanku dan Suti menggoyang tubuhnya dan merangkulku dengan erat, sampai kami melepaskan nikmat kami bersama.

Kontolku semakin mengecil dan terlepas dari tempek Suti. Kami menutupi tubuh kami dan tertidur seperti biasa, layaknya tak terjadi apa-apa. Tapi aku sudah susah tertidur, karena memikirkan, apa yang dilakukan ibu barusan. Dia mencubitku. Kami telah tertangkap basah melakukan hubungan suami isteri. Akhirnya aku tertidur juga. Ibu membangunkanku, saat subuh mulai tiba. Ibu sudah menyiapkan nasi dan lauknya ke dalam rantang plastik untuk kubawa ke tengah laut.

Ibu membantuku menurunkan jaring ke dalam perahu. Aku hanya diam dan malu, karena ibu mengetahui apa yang kami lakukan tadi malam. Cepat-cepat aku meluncurkan perahu dari kolong rumah melalui alur air ke tengah laut. Segera kupasang layar dan aku menuju tengah laut. Pikiranku masih tetap juga tak tenang. Akhirnya kulemparkan jaring. Beberapa kali sampai matahari meninggi dan terang. Para nmelayan lain sudah menuju daratan, sementara aku masih terus menebar jaring. Tangkapanku hari ini benar-benar gawat. Mungkin aku yang kurang konsentrasi, atau lagi sial. Akhirnya aku pulang hanya membawa sedikit ikan. Ibu sudah menungguku di tepi pantai. Kami menjualnya dan memberi dua kilo beras. Hanya itu yang bisa kami peroleh hari ini. Ketika aku mendayung perahu pulang ibu mendekatiku. Dadaku berdebar.
"Apa yang kamu lakukan tadi malam sama adikmu?" tanya ibu datar. Aku diam. Ibu bertanya lagi dan aku hanya diam.
"Sudah berapa kali kamu lakukan?" tanya ibuku. Lagi-lagi aku diam. Ibu tau, aku melakukannya dengan Suti sudah sering. Katanya dia melihat kami begitu menikmatinya dan Suti serta aku seperti suami isteri yang sudah terbiasa melakukannya. Kembali aku hanya diam saja.

Perahu sudah memasuki kolong rumah. Aku mengangkat jaringku untuk kuperbaiki. Ibu datang membantu setelah dai selesai masak nasi dan lauk serta membawakannya untukku. Aku makan, kini giliran ibu melihat jaring yang rusak. Ketika kami kembali melakukan perbaikan bersama, ibu menasehatiku, agar aku tak melakukannya lagi, karena akan menjadi aib, kalau Suti hamil. Ibu tidak tahu, kalau aku memakai kondom. Aku sudah menyembunyikian kondom dengan rapi di tempat yang tak mungkin ditemukan. Aku hanya tertunduk. Perbaikan jaring pun selsai.

Ibu mengajakku untuk mencari kerang ke pulau kecil tak berapa jauh dari pantai dan mencari kepiting. Kepiting boleh dijual besok, karena dia susah matinya. Aku menyetujuinya, agar ibu tak marah lagi pikirku. Setelah meminta izin ayah, kami melaut. Sebuah pulau kecil yang sunyi. Ibuku turun dari perahu. Dia mulai meraba-raba lumpur untuk mendapatkan kerang. Lumayan juga hasilnya ada dua ember besar. Kami pun mulai memasuki akar-akar bakau mencari kepiting. Perahu kami tambatkan di sebatang bakau. Ibuku yang bersia 37 tahun cekatan mencari kepiting. Kami mendapatkan beberapa ekor dan aku mengikatnya lalu memasukkannya ke dalam perahu.

Pulau itu sunyi. Sepi. Hanya terdengar suara desah angin, sesekali hempasan gelombang kecil dan cicit burung. Sesekali terdengar kepak sayang bangau, hinggap di pucuk bakau mengintip ikan kecil. Melihat bangau mulai ramai di pohon bakau, aku mulai menebar jaring, pasti banyak ikannya. Kalau tidak, mana mungkin bangau mau datang mengintipnya. Benar saja, tebaran pertama aku mendapat tiga ekor ikan ukuran sedang. Beberapa kali aku menebar jala dan mendapatkan sembilan ekor ikan. Cukup untuk lauk kami sekeluarga.

"Kita ke pancuran, Bu. Kita mandi dan mencuci tubuh kita yang bau lumpur," kataku. Ibuku setuju. kami naik perahu menuju pancuran dan mengambil air dalam jerigen. Aku mandi tanpa membuka celanaku. Membersihkan tubuhku. Ibuku juga mandi dan mengibas-ngibaskan celana pendeknya yang terkena lumpur. Aku melihat bayangan tubuh ibu dari kainnya yang basah. Susunya membayang dari kaos basah yang dipakainya. Kontolku ngaceng. Tapi dia ibuku. Ibuku... tak mungkin....
"Kamu nengok apa?" tanya ibuku. Aku tersipu malu dan menunduk. Lalu ibu meneruskan mandinya dan mengangkat baju kaosnya dan aku melihat jelas susunya. Aku berdiri dan menatap laut. Aku tak melihat satu pun perahu. Benar-benar sepi.
"Bu..." sapaku. Ibu menoleh. Aku mendekatinya. Aku memeluknya dari belakang.
"Ada apa tole...?" tanyanya. Aku diam. Mulai meremas susu ibuku dengan sebelah tangan dan sebelah lagi kumasukan melalui celananya yang berkaret. Kuelus jembut ibuku.
"Ikh... kamu ini bagaimana....?" kata ibuku menepiskan tanganku. Cepat kupelorotkan celana ibu. Terus sampai mata kakinya, hingga ibu benar-benar tidak mengenakan apa-apa dari pusat ke bawah.
"He... kamu ini kenapa?" Aku diam dan hanya memeluknya.
"Kamu mau buat aku seperti Suti, ya?"
Cepat kusogok kontolku dari belakang. Ibu berbalik dan aku langsung memeluknya dan menyogokkan kontolku disela-sela tempeknya.
"Kamu ini..." kata ibu marah dan menolak tubuhku. Aku lebih kuat memeluknya dan kedua kakiku sudah berada di antara kedua kakinya. Kusandarkan ibu di batu besar dan landai. Langsung kusetubuhi.
"Kamu ini... " kata ibu berteriak. Aku yakin, tak akan ada orang yang mendengarnya dalam sunyi ini. Terus kusetubuhi ibuku. Sampai aku merasakan tempek ibu menjadi licin. Aku tau, kalau selama dua bulan lebih di rumah sakit, ibu tak mungkin bersetubuh. Aku terus menyetubuhinya. sampai akhirnya, ibu tak lagi berteriak dan menolak tubuhku. Ibu mulai menggeliat dan mengelinjang saat susunya aku emut dan aku hisap-isap.

"Oh... kamu ini kurang ajar sekali, Tole..." katanya mendesah. Aku tak mempedulikannya. Kontolku terus maju-mundur dalam liang tempeknya. Ibu pun... memelukku dari bawah. kami saling berpelukan dan erat sekali dan melepaskan kenikmatan kami bersama pula. Kucabut kontolku. Ibu tertunduk lesu. Dia meneteskan airmatanya dan meleleh di pipinya. Aku membujuknya dan dia menepiskan tanganku. Kuajak dia naik ke perahu dan aku mulai melepaskan tali ikatan perahu. Aku sengaja membawanya berbelok-belok di sela-sela pohon bakau untuk mencari, mana tau ada kepiting lagi, sembari pulang. Kuminta ibu duduk di belakang dekat denganku, agar perahu bisa melaju. Ibu mundur dan mendekat ke arah diriku. Kupeluk ibu dari belakang dan membisikkan kepadanya agar dia memaafkan aku. Ibu diam saja. Kontolku merapat ke pinggangnya dan aku mengelus susunya lagi.

"Ah... jangan... ini laut. Nanti hantu laut marah," katanya. Aku diam saja dan terus memilin susunya dan menciumi tengkuknya. Kontolku kembali ngaceng dan kulepas celanaku ke bawah. Lalu kulepas pula celana ibuku hingga terlepas dari kedua kakinya. Ibuku sudah setengah telanjang. Kuangkat ibu ke pangkuanku, membelakangiku. Kumasukkan kontolku dari belakang.
"Ah... kamu ini..." ibuku mendesah. aku terus menusukkannya sampai jauh kedalam. Perahu bergoyang-goyang dan aku menimmatinya. Ibupun mulai menjepit kontolku dan menekan pantatnya agar kontolku masuk kedalam.
"Ahhh...." katanya mengocok kontolku dan kontolkupun mengeluarkan pejuh. Cepat kami memakai celana kami dan berkayuh pulang.
Dalam perjalanan ibu bertanya dengan wajahnya menatap ke haluan nan jauh.
"Kamu dan Suti melakukan ini juga di sana, kan?" tanya ibu. Aku diam. Ibu juga diam.
Saat kami tiba di rumah, ayah katanya ada di warung minum teh manis panas.

Sejak saat itu, aku dan ibu, suka melakukannya. Tidak di rumah, tapi di hutan bakau saat menangkap kepiting. Kodenya, ibu atau aku yang mengajak untuk menangkap kepiting. Jika menangkap kepiting, pasti kami melakukannya. Tak peduli walau kami hanya membawa dua ekor kepiting saja. Berkali-kali dan berkali-kali. Akhirnya ibuku hamil. Kami yakin, anak itu adalah anak kami.

Jika aku mengajak Suti menangkap kepiting, ibu hanya cemberut. Dia juga tahu, kalau aku dan Suti pasti melakukan persetubuhan. Rahasiaku dan Suti diketahui oleh ibu, tapi rahasiaku dan ibu tak seorang pun yang tahu.TAMAT.


Gubux Cerita

0 10:

Posting Komentar